A.
Pendahuluan
Kata ilmu sudah menjadi kata yang familiar dalam
pembicaraan sehari-hari terutama mereka yang tertarik dalam bidang keilmuan,
tapi tanpa kita sadari terkadang kita akan merasa kebingungan untuk merumuskan
suatu definisi yang pasti mengenai kata ilmu. Bahkan, banyak yang berspekulasi
untuk hanya memahami ilmu secara umum sebagai sebuah pengetahuan yang bersifat
ilmiah, tanpa kemudian mencoba untuk berfikir lebih mendalam mengenai apa
sebenarnya makna ilmu yang sesungguhnya. Sehingga banyak yang mengartikan ilmu
sebagai suatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (any systematic body
of knowledge).
Ilmu secara sederhana yaitu suatu kumpulan pengetahuan
mengenai suatu bidang tertentu, yang merupakan suatu kesatuan yang tersusun
secara sistematis, serta memberikan penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan
dengan menunjukkan sebab-sebabnya. Setiap cabang ilmu membatasi diri pada salah
satu bidangnya itu dari segi tertentu.
Pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala
perbuatan manusia untuk memahami objek yang dihadapinya, hasil usaha manusia
untuk memahami objek tertentu.[1] Begitu banyak pengertian ilmu jika kita telusuri
secara komprehensif. Karena begitu banyaknya pendapat yang mendefinisikan hal
tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu diartikan sebagai suatu
pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematismenurut
metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala
tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan,
ilmu ekonomi dan sebagainya. Ilmu juga diartikan sebagai pengetahuan atau
kepandaian, tentang duniawi, akhirat, lahir, batin, dan sebagainya.[2]
Bila kita telusuri lebih lanjut, maka ilmu sendiri
dapat digambarkan dalam suatu bagan segitigas sebagai berikut:
|
|
|
AKTIVITAS
|
|
METODE
|
|
PENGETAHUAN
|
|
ILMU
|
Dari
bagan diatas dapat kita pahami bahwasanya bila ingin memperoleh pengertian yang
komperhensif mengenai definisi ilmu, maka tidak bisa dilakukan secara parsial
dengan hanya melihat ilmu dari satu sisi saja, melainkan dari beberapa sisi
yang juga menunjang dari keberadaan suatu ilmu sebagai unsur yang tidak
terpisahkan dari ilmu itu sendiri.
Bila
melihat ilmu sebagai aktivitas, maka akn didapat suatu pengetian bahwasanya
ilmu adalah aktivitas (proses) yang dilakukan dengan metode ilmiah guna
memperoleh pengetahuan yang sistematis, sebaliknya bila melihat ilmu sebagai
metode (cara/prosedur) maka akan didapat pengertian bahwa ilmu adalah suatu
metode guna memperoleh pengetahuan yang sistematis yang dilakukan dengan sebuah
aktivitas ilmiah, demikian pula bila melihat ilmu sebagai pengetahuan maka
diperoleh pengertian sebagai pengetahuan yang sistematis yang diperoleh dengan
aktivitas penelitian yang dilakukan dengan metode ilmiah.
B. Ilmu sebagai Proses
Charles Singer merumuskan dalam The Liang Gie bahwa
ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan (science is the procces which
makes knowledge[3]). Berbagai
pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar yang dilakukan manusia mampu
membuka rahasi alam yang ada dibalik struktur yang tersembunyi. Selanjutnya,
manusia menyusun berbagai pengetahuan tersebut ke dalam suatu bentuk yang
terstruktur yang terdiri dari konsep-konsep, prinsip-prinsip,
proposisi-proposisi, dan teori-teori yang berkaitan dengan struktur alam
tertentu, yang pada selanjutnya disebut ilmu[4].
Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses
tertentu yang dinamakan metode keilmuan, yang dapat diterapkan melalui metode
penelitian ilmiah yang menghasilkan temuan yang disebut ilmu[5].
The Liang Gie memberikan pengertian ilmu adalah rangkaian aktivitas
penelaahan yang mencari penjelasan peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.[6]
Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus
dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu
mendatangkan pengetahuan yang sistematis.[7]Ilmu sebagai proses adalah ilmu secara nyata dan khas
merupakan suatu aktivitas manusia yakni perbuatan melakukan sesuatu yang
dilakukan oleh manusia, ilmu tidak hanya aktivitas tunggal saja, melainkan
suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan suatu proses. Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif
dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga
mengahasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala
kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran,
memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.[8]
Ilmu secara nyata dan khas adalah aktivitas menusiawi, yakni
perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hany satu
aktivitas tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan
sebuah proses. Rangkaian aktivitas ini bersifat rasional, kognitif, dan
teleologis.[9]
a.
Rasional
Aktivitas rasional berarti kegiatan yang menggunakan kemampuan
pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan perasaan atau
naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penelaran logis dari pengamatan
empiris.[10]
b.
Kognitif
Pada dasaranya ilmu adalah sebuah proses yang bersifat kognitif,
bertalian dengan proses mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif (cognition)
adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, penerapan, pengkonsepsian,
dan penalaran (antara lain) yang dengannya manusia dapat mengetahui dan
memperoleh pengetahuan tentang suatu hal.[11]
c.
Teleologis
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan
kognitif, juga bercorak teleologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena
para ilmuwan dalam rangka melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan
yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh
setiap ilmuwan. Dengan demikian ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan.
Tujuan ilmu itu bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
masing-masing ilmuan.[12]
C. Ilmu sebagai Prosedur
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa
penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah
sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah
ada lebih dahulu.[13]
Pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala
perbuatan manusia untuk memahami objek yang dihadapinya, hasil usaha manusia
untuk memahami objek tertentu.[14]
Ilmu merupakan buah dari pemikiran
manusia dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ilmu merupakan salah satu dari
pengetahuan manusia. Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya, maka kita
harus mengerti apakah hakikat ilmu sebenarnya. Seperti peribahasa Perancis,
“Mengerti berarti memaafkan segalanya,” maka pengertian yang mendalam terhadap
hakekat ilmu, bukan saja akan mengingatkan apresiasi kita terhadap ilmu namun
juga membuka mata kita terhadap berbagai kekurangannya.[15]
Pengertian ilmu sebagai aktivitas penelitian perlu diurai lebih
lanjut agar dapat dipahami berbagai unsur dan cirinya yang lengkap. Penelitian
sebagai rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian
cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah
ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan atau
seirng kali dipakai istilah “metode ilmiah” (scientific methode).[16]
Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa metode keilmuan adalah suatu cara dalam
memperoleh pengetahuan. Suatu rangkaian prosedur tertentu harus diikuti untuk
mendapatkan jawaban tertentu dari pertanyaan yang tertentu pula. Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan
pikrian, pola kerja, tata langkah, dan cara tehnis untuk memperoleh pengetahuan
baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada.[17]
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang
disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode
ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan
pengetahuan yang cara mendapatknnya harus memenuhi syarat-syarat tertentu.[18]
Sedangkan yang dimaksud
dengan berpikir ilmiah, berpikir yang memakai dasar-dasar/aturan-aturan
ilmiah, yang antara lain[19]:
a)
Metodis : menggunakan metode, cara,
jalan yang lazim digunakan dalam disiplin ilmu yang dibicarakan;
b)
Sistematis: dalam berpikir,
masing-masing unsur saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu
keseluruhan, sehingga dapat tersusun suatu pola pengetahuan yang rasional;
c)
Obyektif: kebenaran dari hasil
pemikirannya dapat memperoleh bobot obyektif, tidak lagi bersifat subyektif;
d)
Umum: tingkat kebenaran yang
mempunyai bobot obyektif tersebut dapat berlaku umum, dimana saja dan kapan
saja.
D. Ilmu sebagai Produk
Ilmu
sebagai produk berarti ilmu merupakan kumpulan pengetahuan sistematis yang
merupakan produk dari aktivitas penelitian dengan metode ilmiah sebagai sistem
pengetahuan. Ilmu menurut salah satu maknanya adalah pengetahuan. Pengetahuan
itu mengenai sesuatu pokok soal (objek materi) dan berdasarkan suatu titik
pusat minat (objek formal). Objek formal dan objek materi ini kemudian
membentuk sasaran yang sesuai dengan ilmu yang bersangkutan.[20]
Menurut Sudarminta dalam Ahmad Tafsir, pengetahuan
ilmiah adalah jenis pengetahuan yang diperoleh dan dipertanggungjawabkan
kebenarannya secara ilmiah atau dengan menerapkan cara kerja atau metode
ilmiah.[21]
Sedangkan menurut Ahmad Tafsir pengetahuan ilmiah atau dia menyebutnya
pengetahuan sain ialah pengetahuan yang rasional dan di dukung bukti empiris
dan metodenya menggunakan metode ilmiah.[22]
John G.
Kemeny sebagaimana dikutip The Liang Gie juga memakai istilah ilmu dalam arti
smeua pengetahuan yang dihimpun dengan perantaraan metode ilmiah (all
knowledge collected by means of the scientific metgod[23]).Masalah
ilmu pengetahuan menjadi masalah terpenting bagi kehidupan manusia. Ilmu
pengetahuan merupakan salah satu wacana manusia untuk mengetahui dan memahami
sesuatu serta memecahkan persoalan yang ada. Dilihat dari fungsinya, ilmu
(pengetahuan) mempunyai empat fungsi, yaitu (1) mengidentifikasikan gejala, (2)
menerangkan terjadinya gejala, (3) meramalkan gejala, dan (4) menggunakan
dan/atau mengendalikan gejala.[24]
Dari bebarapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa yang dinamakan dengan pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang
diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah. Atau dengan kata lain pengetahuan
ilmiah bisa juga disebut dengan ilmu.
E. Paradigma Positivisme
Paradigma
dalam ilmu pengetahuan mempunyai definsi bahwa seperangkat keyakinan mendasar
yang memandu tindakan-tindakan manusia dalam keseharian maupun dalam
penyelidikan ilmiah. Paradigma dalam hal ini dibatasi pada paradigma pencarian
ilmu pengetahuan (dicipline inquiry paradigm), yaitu suatu keyakinan
dasar yang digunakan berbagai kalangan untuk mencari kebenaran realitas menjadi
suatu ilmu atau disiplin ilmu pengetahuan.[25]
Positivisme
mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya, yang
terukur. [26] Bagi positivisme, ilmu sosial dan ilmu alam menggunakan suatu dasar logika ilmu yang sama, sehingga seluruh aktivitas ilmiah pada kedua bidang ilmu tersebut harus
menggunakan metode yang
sama dalam mempelajari dan mencari jawaban serta mengembangkan teori. Dunia nyata berisi hal‐ hal yang bersifat berulang‐ulang dalam aturan maupun urutan tertentu sehingga dapat dicari hukum sebab
akibatnya. Dengan demikian, teori dalam pemahaman
ini terbentuk dari seperangkat
hukum universal yang berlaku. Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk menemukan
hukum‐hukum tersebut. Dalam pendekatan ini, seorang peneliti memulai
dengan sebuah hubungan sebab akibat
umum
yang diperoleh dari teori umum. Kemudian, menggunakan idenya untuk memperbaiki penjelasan tentang hubungan tersebut dalam konteks yang lebih khusus.
Positivisme
adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Positivisme
sebagai perkembangan empirisme yang ekstrim, adalah pandangan yang mengaanggap
bahwa yang dapat diselidiki atau dapat dipelajari hanyalah “data-data yang
nyata/empirik”, atau yang mereka namakan positif. Nilai-nilai politik dan
sosial menurut positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang
diperoleh dari penyelidikan terhdapa kehidupan masyarakat itu sendiri. Nilai-nilai
politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah, dengan menemukan
perubahan historis atas dasar cara berfikir induktif[27]
Positivisme
sudah dapat disetujui untuk memulai upaya membuat aturan untuk mengatur manusia
dan mengatur alam. Kata positivisme, ajukan logikanya, ajukan bukti empirisnya
yang terukur. Tetapi bagaimana caranya? Kita masih memerlukan alat lain. Alat
lain itu adalah metode ilmiah. Metode ilmiah mengatakan untuk memperoleh
pengetahuan yang benar lakukan langkah berikut: logico-hypothetico-verivicativ.
Makdusnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis
(berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara
empiris[28].
Positivisme
selalu berpangkal pada apa yang telah diketahui, yang faktual dan positif.
Semua yang diketahui secara positif adalah semua gejala atau sesuatu yang
tampak. Karena itu mereka menolak metafisika. Yang paling penting adalah
pengetahuan tentang kenyataan dan menrelediki hubungan-hubungan antarkenyataan
untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi di kemudian hari, da bukannya
mempelajari hakikat atau makna dari semua kenyataan itu[29].
Paradigma ini mencoba mengembangkan teori berdasarkan pendekatan deduktif dengan
diawali dengan
review
atas
literature
dan
mengoperasionalkannya dalam penelitian. Hipotesis
kemudian dikembangkan dan
diuji dengan menggunakan data yang ada berdasarkan pada analisis
statistik. Oleh karena itu, pendekatan ini cenderung mengkonfirmasi, atau merevisi ataumemperluas teori (refinement) melalui
analisis hubungan sebab akibat
(causal analysis).
Positivisme merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul dalam dunia
ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini berakar dari paham ontologi realisme yang menyatakan
bahwa realitas ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws).
Dengan kata lain, Positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menolak aktifitas yang berkenaan
dengan metafisik.
Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
Sesungguhnya aliran
ini
menolak adanya spekulasi teoritis sebagai
suatu sarana untuk memperoleh
pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).
Positivisme merupakan empirisme, yang
dalam
segi-segi tertentu sampai
kepada kesimpulan logis
ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan
pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk,
maka
tidak
ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Dalam perkembangannya, positivisme
mengalami perombakan dibeberapa sisi,
hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis yang tentunya di pelopori
oleh tokoh- tokoh yang berasal dari Lingkaran Wina. Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi
pikirannya pada segala
hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis
definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan
ilmiah. Tujuan
dari pembahasan
ini adalah menentukan
isi konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.
Pendirian
positivisme yaitu pendirian yang tidak mengenal pembedaan kualitas antara
indera dan akal, yang ada hanya pembedaan kuantitas. Yang diterima sebagai pengetahuan,
adalah yang betul-betul merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang
positif yang berdasarkan pada pengalaman indera; sedangkan pengertian yang
bersifat umum abstrak dianggap tidak memmpunyai nilai ilmiah.[30]
F. PARADIGMA
INTERPRETIF
Paradigma
interpretive didasarkan pada keyakinan bahwa individu (manusia) merupakan mahluk
yang secara sosial dan simbolik
membentuk dan mempertahankan
realita mereka sendiri. (Berger dan
Luckmann 1967;
Morgan dan Smircich 1980). Oleh karena itu,
tujuan
dari pengembangan teori dalam paradigma ini adalah untuk menghasilkan deskripsi,
pandangan‐
pandangan dan penjelasan tentang peristiwa sosial tertentu sehingga peneliti mampu mengungkap sistem interpretasi dan pemahaman (makna) yang ada dalam lingkungan sosial.
Misalnya dalam kasus korupsi tugas peneliti ada menggali tentang bagaimana
pelaku korupsi memandang korupsi, dan bagaimana mereka melakukan korupsi. Hasil penelitian sangat tergantung pada kemampuan
individu untuk menggambarkan
dan menjelaskan bagaimana pelaku
korupsi tersebut membentuk realita mereka sendiri sehingga terbiasa dengan korupsi. Dalam konteks ini, tugas peneliti adalah mencari
data dan menganalisisnya dari sudut pandang pelaku sehingga
akan terlihat bagaimana dinamika sosial membentuk pemahaman
mereka tentang korupsi. Dengan demikian, peneliti
mencoba meninterpretasikan
temuan berdasarkan cara pandang yang digunakan
oleh
pelaku korupsi.
Intinya paradigma ini berusaha mengungkap
bagaimana (how) realitas sosial dibentuk dan dipertahankan oleh individu tertentu dan bagaimana mereka
memaknainya
Untuk memahami sebuah lingkungan sosial
yang spesifik, peneliti harus menyelami pengalaman subjektif para pelakunya. Penelitian interpretif tidak menempatkan objektivitas sebagai
hal terpenting, melainkan mengakui bahwa demi memperoleh
pemahaman
mendalam, maka subjektivitas para pelaku harus digali sedalam mungkin hal ini memungkinkan terjadinya trade‐off antara objektivitas dan kedalaman
temuan penelitian (Efferin
et al., 2004).
Burrel
dan Morgan (1994) berpendapat bahwa paradigma interpretif menggunakan cara
pandang yang nominalis yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang hanya
merupakan tabel, nama, atau konsep yang digunakan untuk membangun realitas, dan
bukanlah sesuatu yang nyata, melainkan hanyalah penamaan atas sesuatu yang
diciptakan oleh manusia atau merupakan produk manusia itu sendiri.
Alternatif
paradigma interpretif berasal dari filosofis Jerman yang lebih menekankan pada
peran bahasa, interpretasi (penafsiran), dan pemahaman dalam ilmu sosial (social science). Dalam gagasannya, Chua
(1986) menjelaskan paradigma interpretif ini dalam asumsi-asumsi yang sudah
diklasifikasikannya:
a.
Keyakinan tentang realita fisik dan sosial
Schultz (1962) dalam
Chua (1987) memulai gagasan bahwa apa
yang diberikan kepada kehidupan
sosial adalah pengalaman hidup yang tidak pernah terputus. Kesadaran ini tidak memiliki arti atau identitas diskrit sampai
manusia mengalihkan perhatian mereka (self-reflect) pada hal
tersebut dan memberi arti di dalamnya. Pengalaman bermakna yang terjadi
dimasa lalu disebut dengan perilaku.
Ilmu sosial umumnya berkaitan dengan perilaku (tindakan) bermakna yang berorientasi ke masa depan dan diarahkan
menuju pencapaian tujuan tertentu. Karena tindakan
secara intrinsik diberkahi dengan
arti subjektif oleh
pelaku dan selalu disengaja, tindakan tidak dapat dipahami tanpa merujuk pada
maknanya. Namun dalam kehidupan sehari-hari, tindakan penuh
dengan makna subjektif. Sementara manusia akan terus menerus menyusun dan mengklasifikasikan pengalaman yang sedang berlangsung sesuai dengan skema interpretatif, skema ini pada dasarnya sosial
dan intersubjektif. Kita tidak hanya menafsirkan tindakan kita sendiri tetapi juga orang
lain dengan siapa kita bertindak, dan sebaliknya.
b.
Keyakinan tentang pengetahuan
Paradigma interpretatif berusaha untuk memahami tindakan manusia dengan memposisikan mereka ke dalam satu set tujuan
dari tujuan individu dan struktur sosial yang bermakna. Penjelasan tersebut harus sesuai dengan kriteria
tertentu.
· Pertama adalah konsistensi logis. Schultz (1962, hal.43) menulis bahwa "sistem konstruk
khas yang dirancang oleh ilmuwan harus didirikan
dengan tingkat tertinggi kejelasan
dan keunikan dari kerangka konseptual tersirat dan
harus sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip logika
formal".
Dalil tersebut diperlukan untuk
menjamin "validitas
objektif dari
objek pemikiran yang dibangun oleh ilmuwan sosial".
· Kedua adalah "penafsiran subyektif". Hal ini berarti
bahwa ilmuwan mencari arti suatu tindakan yang dilakukan
oleh pelaku.
Masih terdapat kesulitan untuk
menentukan prosedur yang tepat guna pelaksanaan
penelitian interpretif, karena metode yang diterapkan mirip dengan antropolog. Mereka
menekankan pengamatan, kesadaran isyarat linguistik (bahasa), dan perhatian terhadap
detail.
c.
Keyakinan tentang dunia
sosial
Keyakinan utama tentang manusia
adalah (a) anggapan
tentang tujuan tindakan
manusia,
dan (b) asumsi penyusunan, makna
yang telah diberikan menyusun tindakan. Namun, Schultz berpendapat tujuan
itu selalu memiliki unsur masa
lalu, hanya yang sudah berpengalaman mungkin diberkahi
dengan makna pada masa lalunya. Selanjutnya, tujuan didasarkan
pada perubahan konteks sosial dan
tidak serta merta ada.
d.
Teori dan Praktek
Fay (1975) menunjukkan bahwa pengetahuan interpretatif mengungkapkan
kepada orang apa yang mereka dan orang
lain lakukan ketika mereka bertindak
dan berbicara seperti yang mereka lakukan. Ia
melakukannya dengan menyorot struktur simbolik dan diambil
untuk diberikan-tema yang memberikan pola pada dunia
ini dengan cara berbeda. Interpretatif tidak
berusaha untuk mengontrol fenomena empiris, ia tidak memiliki aplikasi teknis. Sebaliknya, tujuan dari interpretatif
adalah untuk memperkaya pemahaman
masyarakat akan arti tindakan mereka, sehingga
meningkatkan kemungkinan komunikasi
timbal balik dan pengaruh. Dengan
menunjukkan apa yang dilakukan orang, itu memungkinkan kita
untuk memahami bahasa baru dan
bentuk kehidupan.
Struktur Paradigma Interpretif
Struktur
paradigma menurut Burrel dan Morgan (1994) yaitu:
a. Hermeneutics
Hermeneutics
menginterpretasikan dan memahami hasil pemikiran manusia yang memberikan ciri
pada dunia sosial dan kultural.
b. Solipsism
Solipsism mewakili
bentuk paling ekstrim dari idealis subyektif yang menolak bahwa di dalam dunia
tidak terdapat realitas independen yang berbeda. Untuk seorang yang beraliran
solipis, dunia adalah hasil ciptaan pikirannya, secara ontologis tidak ada
eksistensi diluar sensasi yang diadakan oleh pikiran dan tubuhnya.
c. Phenomenology
Phenomenology terpecah
menjadi dua yaitu fenomenologi
transendental dan fenomenologi
eksistensial.
·
Phenomenology transendental
dikembangkan oleh Husserl menyatakan bahwa sains sangat ditentukan oleh
karakter intensionalitas. Aliran ini berupaya mencapai obyektifitas absolut
dalam menghasilkan sains. Oleh karena itu, penelitian model ini cenderung
menggunakan analisis kesadaran dan mengabaikan realita.
·
Phenomenology eksistensial
muncul dengan adanya penelitian Heidegger, Merleau-Ponty, Sartre dan Shutz
dimana mereka memiliki kesamaan dengan menempatkan dunia nyata dengan kehidupan
sehari-harinya sebagai lawan dari kesadaran transedental.
d. Phenomenological
Sociology
Phenomenological sociology
berkembang menjadi dua aliran yaitu Ethnomethodology
dan Symbolic Interaction.
·
Ethnomethodology,
aliran ini merupakan suatu pemahaman mendetail dari dunia dengan kesehariannya
sehingga pada dasarnya aliran ini mencari suatu aktifitas praktek, kondisi
praktek serta alasan sosiologis praktik dalam suatu penelitian empiris dan
mengganggap terjadinya suatu even tertentu sebagai suatu fenomena.
·
Symbolic Interaction
menekankan perlunya interaksi dimana individu menciptakan dunia sosial mereka
sendiri bukan hanya bereaksi terhadapnya, dengan demikian aliran ini diturunkan
dari lingkungannya bukan dari individu atau pelaku.
Daftar Pustaka
Ahmad
Tafsir, Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006).
Aceng Rachmat, Filsafat
Ilmu Lanjutan, (Jakarta: Kencana, 2011).
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002),
J. Sudarminta, Epistemologi
Dasar Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius,2002).
Jujun S.
Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, (Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 2009).
Mohammad Adib, Filsafat
Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2010).
Sudarto, Metodologi
Penelitian Filsafat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996)..9
Sutardjo A.
Wiraamihardja, Pengantar Filsafat Sistematika dan Sejarah Filsafat Logika
dan Filsafat Ilmu (Epistemologi) Metafisika dan Filsafat Manusia Aksiologi, (Bandung:
Reflika Aditama, 2009).
The Liang Gie, Pengantar
Filsafat Ilmu (Yogyakarta : Liberty Yogyakarta, 1999).
[1] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi
dan Logika Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010). Hal. 91.
[2] Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 305.
[3] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 2012), hal.87.
[4] Aceng Rachmat,
Filsafat Ilmu Lanjutan, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 102-103.
[5] Aceng Rachmat,
Filsafat Ilmu Lanjutan, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 111.
[6] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi
dan Logika Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010). Hal. 91.
[7] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu, .... hal.88.
[8] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu, .... hal.93.
[9] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu, .... hal.96.
[10] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu, .... hal.96.
[11] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu, .... hal.97.
[12] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu,.... hal.97.
[14]
Mohammad Adib, Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika
Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010). Hal. 91.
[15] Jujun S.
Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, (Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 2009), hal. 3.
[16] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu, .... hal.110.
[17] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu, .... hal.110.
[18] Mohammad Adib,
Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan.
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010). Hal.93.
[19] Sudarto, Metodologi
Penelitian Filsafat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 29.
[20] The Liang Gie,
Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta : Liberty Yogyakarta, 1999), 125.
[21] J. Sudarminta, Epistemologi
Dasar Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius,2002), hal.
10.
[22] Ahmad
Tafsir, Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), hal. 36.
[23] The Liang Gie,
Pengantar Flsafat Ilmu,.... hal.87.
[24] Sutardjo A.
Wiraamihardja, Pengantar Filsafat Sistematika dan Sejarah Filsafat Logika
dan Filsafat Ilmu (Epistemologi) Metafisika dan Filsafat Manusia Aksiologi, (Bandung:
Reflika Aditama, 2009), hal. 103.
[25] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi
dan Logika Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010). Hal.112.
[26] Ahmad
Tafsir, Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), hal. 32.
[27] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi
dan Logika Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010). Hal. 122.
[28] Ahmad
Tafsir, Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), hal. 33.
[29] Prof. Konrad Kebung, P. Hd. Filsafat Ilmu Pengetahuan,
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011), hal. 60
[30] Sudarto, Metodologi
Penelitian Filsafat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 91.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar